Daffodil

Chiara mematikan mesin pemanas dan menggenggam tangan cangkir kopinya yang tahan panas untuk dipindahkan ke atas meja makan. Setelah itu, ia mulai menyantap serealnya. Ia tak berniat membunuh hening yang menyebar di dapur minimalis miliknya, yang ia pikir tidak akan dapat dirasakannya lagi suatu hari. Tak ada lagi asap dan bunyi berisik dari kendaraan bermotor barangkali penyebab utama keheningan dunianya sekarang. Setelah sereal berikut kopinya tandas, ia meraih tas yang ada pula di atas meja dan keluar menyapa dunia barunya.

sumber gambar freepik.com

Tak peduli pakaiannya terbilang formal, Chiara menggunakan flying skateboard miliknya. Lagipula ia memang tidak memiliki motor maupun mobil bertenaga alternatif yang sudah memiliki banyak pengguna. Sesampainya di tempat tujuan, flying skateboard hitamnya ia letakkan di kotak parkir terlebih dahulu. Lantas, Chiara melanjutkan perjalanannya ke gedung yang sudah di depan mata dengan berjalan kaki. Sama seperti yang lain, gadis berambut lurus itu membiarkan dirinya dipindai di pintu masuk sebelum akhirnya berhasil masuk ke dalam gedung. Ketukan sepatu haknya bersaing dengan sepatu formal milik yang lain menuju ke sebuah ruangan dan menaiki lift semi transparan.

Mendadak lagu favoritnya yang menggema di telinga kanannya berhenti. Jemarinya menekan tombol kecil di sisi permukaan handsfree-nya. "Saya sudah di hadapan pintu ruangan Anda, Prof," katanya seraya menatap sebuah pintu berwarna putih.

Perintah masuk mendorong Chiara untuk melakukan pindai identitas kembali pada layar di sisi pintu. Setelahnya, pintu baru bisa terbuka. Mata cokelatnya mengetahui seorang pria yang ia ketahui baru berusia tiga tahun lebih tua darinya sedang menatapnya balik. "Pagi, Prof."

"Kapan aku menyuruhmu memanggilku hanya dengan namaku saja?"

Kening Chiara berkerut. "Sejak saya dilahirkan kembali, Prof."

"Jengga saja cukup bagiku, Chiara," kata si pria sambil menekankan namanya sendiri.

Chiara tak bersuara. Ia hanya mengangguk. Lantas, ia mengikuti Jengga menuju tempat pemeriksaan. Chiara sudah tahu proses selanjutnya tanpa perlu diberitahu. Ia masuk ke dalam sebuah tempat mirip dengan shower box ketika pintunya sudah dibuka oleh pembuatnya. Ia akan berdiri di sana sampai sinar pemindai selesai melakukan tugasnya. Itu hanya berlangsung kurang dari dua menit. Setelah itu, ia akan duduk di salah satu kursi untuk menunggu laporan dari Jengga. Tempat pemeriksaannya tidaklah seruangan dengan ruangan yang Chiara lihat pertama kali setelah pintu terbuka. Tempat yang ia pijaki sekarang lebih seperti labolatorium dan tersembunyi.

Akhirnya Jengga menghampirinya. Lantas, ia mengusap tangannya di udara sehingga muncul layar hologram yang menampilkan hasil pemeriksaan. Spontan Chiara berdiri, turut mengamati. Ada yang membuatnya sedikit khawatir. "Kau tahu artinya, Chiara?"

Chiara tak menanggapi. Matanya menatap lurus ke gambar lingkaran kuning yang berkedip di bagian dada kiri seorang wanita. Chiara tahu betul bahwa warnanya menebal dibandingkan yang telah ia lihat pada hari-hari sebelumnya.

"Tentu aku akan melakukan penelitian lebih lanjut. Tidak hanya demi dirimu, tetapi juga para Daffodil lainnya."

Suasana pemeriksaan pagi itu sangat muram, pikir Chiara. Setelahnya, ia langsung pergi menuju keseharian rutin berikutnya, yaitu bekerja. Anak-anak di sebuah kelas taman kanak-kanak menyambutnya dengan riang. "Ibu guru Lala datang!"

Baru setengah jam mengajar seorang anak laki-laki pingsan diawali dengan suara debumam. Chiara segera menggendong tubuh anak laki-laki yang pingsan dan menenangkan anak-anak lainnya serta menyuruh mereka untuk tetap melanjutkan belajar menulis huruf sendiri dengan panduan layar hologram di depan meja mereka masing-masing.

Rasanya belum pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya. Paling tidak biasanya kasusnya adalah buang air besar atau kecil di kelas, menangis ingin pulang, atau bertengkar satu sama lain. Seorang guru yang kebetulan sedang di koridor membantu Chiara dengan menghubungi dokter sembari mengikutinya ke unit kesehatan sekolah. Beruntung ada teman yang menenangkan Chiara hingga dokter datang dan melakukan pemeriksaan.

Sang dokter melepas alat pendeteksi detak jantungnya. Saat itu juga Chiara langsung bertanya. "Apa yang terjadi dengannya, Dok?"

"Bu Olivia, Bu Chiara, saya baru pertama kali menemukan seorang anak kecil yang menunjukkan ciri-ciri... Daffodil."

Di tengah-tengah keterkejutan pintu ruangan diketuk dari luar. Olivia membukakannya. Dua orang berpakaian kaos dan jeans putih masuk. Salah satu dari keduanya berkata seperti telah mengerti apa yang terjadi, "Serahkan anak itu kepada kami yang lebih berwajib menangani masalahnya."

Setelah orang-orang berpakaian dominan putih pergi, Chiara meminta izin pulang. Bukannya kembali ke rumah, ia justru berada di cafetaria Strengtha, gedung pusat penelitian. Dipijitnya batang hidungnya. Diam-diam ia lagi-lagi merasakan sengatan sekejap di dada kirinya. Kemudian ia hidupkan sambungan pada handsfree-nya, melenyapkan lagi lagu favoritnya. "Apa kau masih di ruanganmu?" Setelah mendapat jawaban, segera secangkir minuman cokelat hangat di hadapannya dihabiskannya. Ia beranjak pergi menuju ruangan yang akan ia datangi tuk kedua kalinya hari ini.

"Katamu usia paling muda seorang Daffodil adalah lima belas tahun," ujar Chiara seraya menghampiri dan menatap tajam pria yang duduk di kursi kerjanya setelah diizinkan masuk.

Jengga tak langsung menjawab. Ia tersenyum tipis. "Ternyata Alexander adalah anak didikmu, ya."

"Kau yakin dia cukup kuat untuk menanggung efek sampingnya?" tanya Chiara geram.

"Kamu sendiri enggak yakin dengan anak didikmu sendiri?" Jengga bertanya balik seraya berdiri. "Dia sudah setahun menjadi seorang Daffodil dan Alex mengetahui fakta itu."

Chiara membelalak. "Aku mengerti tujuan dari diterapkannya Daffodil dan aku sebagai percobaan pertama dari programmu yang akhirnya disetujui oleh pihak pemerintah. Setelah akhirnya kita berhasil memenangkan perang sepuluh tahun yang lalu, programmu terus dijalankan," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang mata pria di hadapannya, "Daffodil memang lebih kuat, lebih gesit. Salah jika musuh membunuhnya dengan menusukkan pedang ke jantungnya. Itu tidak akan mempan."

Hangat dirasakan Chiara. Jengga yang memberi rasa itu. "Daffodil memang lebih kuat, lebih gesit," Jengga meniru kata-katanya, "tapi itu kami atur dan batasi, kecuali perihal lebih cepat mengerti."

Mendadak Chiara dibayangi sosok Alexander yang memang kelihatannya serba bisa. Makin lama memikirkannya, makin tak bisa Chiara memberhentikan tangisnya.

Jengga melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya jatuh ke pundak wanita di hadapannya. Ditatapnya lekat-lekat wanita itu. "Daffodil lainnya tak akan sesakit kita, Chiara."

Kening Chiara berkerut. "Kita?" tanyanya lirih.

"Aku sama sepertimu agar aku bisa merasakannya sendiri. Itu pilihanku. Akhirnya aku tahu bagian sakit dan membanggakannya. Aku hanya melapisi permukaan jantung Daffodil lain. Mereka berbeda dengan kita, Chiara. Itu salah satu bentuk manifestasi dari permintaanmu: memperkecil rasa sakitnya."

Chiara meneguk ludahnya susah payah bersamaan ia telan fakta yang bodohnya baru ia ketahui sekarang. "Bagaimana dengan Alex? Ia sampai pingsan."

Jengga menghela napas. Ia berjalan menuju jendela dengan tirai terbuka. Ia berhenti di sana dan terkekeh sebentar. "Kamu sudah tahu kalau dari luar jendela ini tidak akan terlihat." Jemari tangan kanannya menyentuh permukaan kacanya. "Alex bilang bahwa dia mau melakukan apa pun demi Ibunya yang sedang sakit, sementara Ayahnya adalah salah satu yang tewas pada peperangan. Akhirnya aku menjelaskan padanya lebih dalam tentang Daffodil yang bukan hanya tentang pelapisan jantung."

"Tidak mungkin tidak memberinya bayaran, 'kan?"

"Seminggu sekali dia akan datang ke sini. Tentu aku akan menunggunya di depan. Aku turut senang ketika mendengar cerita yang berinti hidup dan Ibunya membaik."

"Ada lagi?"

Jengga berbalik. "Dia sama seperti kita," ujarnya seraya menekan tombol pada handsfree yang dipakainya.

Mata Chiara sontak membulat. "Apa?"

Jengga tersenyum tipis. "Baru saja laporan masuk, dia telah baik-baik saja. Dia sama seperti kita, tapi menurutku dia lebih kuat daripada kita berdua."

"Kamu seperti sedang mencari penerus."

"Memang seperti itu. Yang lain hanya akan ada rasa sakit sementara, 'kan?"

"Terserahmu saja..., Kak."

Sengatan dirasakan Jengga. Namun, itu tampaknya tertutupi dengan rasa senang yang tak terhingga sekarang. "Sebelum akhirnya kedipnya memerah, aku ingin bilang bahwa aku menyayangimu," ujarnya seraya memeluk Chiara kembali.

Hari itu terasa lebur semua beban di pundaknya. Chiara berharap tak ada kebohongan pada obrolannya tadi dengan pria yang berada di dekatnya sekarang. Ia balas pelukan hangatnya. Ia coba rasakan detak jantungnya. Apa jika ia sedih atau terkejut dada kirinya akan terasa tersengat seperti yang baru saja ia rasakan? Pasalnya ia sadar bahwa detak jantung Jengga pun rasa-rasanya nyaris tak ada.



Post a comment

0 Comments

close