Botol dalam Waktu
Di sudut kota yang sunyi, di mana cahaya lampu jalan menari-nari memantul pada kaca-kaca bangunan tua, hiduplah Lira. Gadis itu memiliki obsesi manis: mengumpulkan botol-botol bekas dan mengubahnya menjadi karya seni—beberapa diisi tanah dan ditanami bunga, yang lain dihias cat warna-warni layaknya bunga bermekaran di taman.
Bagi Lira, botol-botol itu bukan sampah. Ia sering berbicara pada mereka, seolah benda kaca itu bisa mendengar. "Kalian penuh kemungkinan, layaknya waktu yang tak pernah habis," bisiknya.
Botol itu seolah menjawab dengan desiran angin, "Apakah kamu meminum aku dengan seseguk?"
Lira tersenyum. "Aku akan menjagamu agar tetap indah selamanya,"
Namun, di balik kebahagiaannya mengurus botol-botol, hati Lira sedang terbelah. Ia masih terjebak dalam perasaan yang tak kunjung hilang—ia belum bisa melupakan Arif. Sudah setahun hubungan mereka berakhir, tapi Lira masih menyimpan setiap kenangan, seolah menyimpan air di dalam botol yang tak ingin ia buang. Ia masih berharap, meski tahu harapan itu mungkin sia-sia.
Arif memang masih sering datang ke toko kerajinan tempat Lira bekerja. Tapi kedatangannya bukan untuk Lira. Arif kini menyukai Sari, sahabat dekat Lira sendiri. Sari adalah gadis ceria yang selalu membawa semangat ke mana pun ia pergi, dan Arif terpesona oleh keceriaannya itu.
Suatu sore, Lira tidak sengaja melihat Arif dan Sari duduk di taman dekat toko. Arif sedang tertawa mendengar cerita Sari, dan tangannya dengan santai merapikan rambut Sari yang tertiup angin. Pemandangan itu menusuk hati Lira. Ia menyadari bahwa Arif sudah melangkah maju, sementara ia masih berdiri di tempat yang sama.
Tapi cerita ini lebih rumit dari itu. Sari, yang disukai Arif, ternyata tidak memiliki perasaan yang sama padanya. Justru, Sari diam-diam menyukai Rian, seorang pemuda yang sering membantu Lira mengangkut botol-botol bekas ke tokonya. Sari suka cara Rian yang tenang dan sederhana, berbeda dengan kehangatan Arif.
"Arif itu teman yang baik banget, ya kan?" kata Sari pada Lira suatu hari, tanpa tahu luka yang ia torehkan. "Tapi aku lebih suka tipe yang pendiam kayak Rian. Dia kelihatan tulus banget,"
Lira hanya bisa tersenyum pahit. Begitu rumitnya perasaan mereka: Lira yang tak bisa melupakan Arif, Arif menyukai Sari, dan Sari justru jatuh hati pada Rian. Seperti lingkaran yang tak berujung, atau botol yang lehernya berbelit-belit—air sulit keluar, dan perasaan sulit menemukan tempatnya.
Di tengah kebingungan ini, Lira selalu merasa diawasi. Rasa itu bukan tanpa alasan. Di kota itu, ada tukang pasang CCTV bernama Bimo. Bimo percaya bahwa setiap sudut dunia layak direkam. Ia memasang kamera di berbagai tempat, termasuk di dekat taman tempat mereka sering bertemu dan di lorong menuju tokonya. Bagi Bimo, CCTV adalah penjaga waktu, seperti botol yang menyimpan air atau bunga.
Suatu hari, hujan turun dengan lembut. Lira duduk di beranda rumahnya, dikelilingi botol-botol yang berkilauan. Di kejauhan, ia melihat Arif berjalan menuju rumah Sari, membawa sekotak kue. Di sisi lain jalan, ia melihat Sari sedang menunggu Rian yang datang dengan sepeda tuanya, wajah Sari bersinar saat melihat Rian.
Hati Lira terasa penuh, tapi bukan penuh kebahagiaan. Ia merasa seperti botol yang sudah terlalu lama diisi air yang sama—air yang mulai menggenang dan tak lagi segar. Ia ingin membuangnya, tapi tangannya enggan melepaskan.
Matanya tertuju pada lensa CCTV di atap tetangga. Lensa itu berputar pelan, seolah menatapnya. Lira tidak merasa terganggu. Justru, ia merasa lega. Setidaknya, ada sesuatu yang melihat perasaannya saat ini. Ada sesuatu yang merekam momen ini, sehingga kesedihannya dan kerumitan perasaan mereka bertiga tidak hilang begitu saja dalam waktu.
Di tempat lain, Bimo memantau layar monitornya. Ia melihat sosok Lira yang duduk sendirian di antara botol-botol warna-warni, menatap jauh ke depan dengan mata berkaca-kaca. Ia juga melihat Arif yang menunggu di depan rumah Sari, dan Sari yang tersenyum pada Rian. Bimo tidak tahu nama-nama mereka, dan tidak tahu tentang benang kusut cinta yang menyelimuti mereka. Tapi ia tahu, bahwa di dalam bingkai waktu yang ia rekam itu, ada sebuah cerita yang sedang berlangsung—sebuah cerita tentang hati yang gamon, tentang perasaan yang tak terbalas, dan tentang waktu yang terus berjalan meski hati masih ingin berhenti.
Botol-botol itu tetap berdiri tegak, menyimpan bunga dan kenangan. CCTV itu tetap berputar, menyimpan momen dan perasaan. Dan di antara keduanya, waktu terus berjalan, membawa Lira, Arif, Sari, dan Rian melangkah maju, dengan cerita yang terus ditulis detik demi detik dalam botol waktu yang tak pernah tertutup rapat.

Post a Comment