LINGKARAN TAK BERUJUNG





"LINGKARAN TAK BERUJUNG"




Sialan! Sungguh sialan!
Semesta, rasanya aku ingin berteriak, mengeluarkan tetesan kepedihan yang terpendam dalam diriku. Dan berharap aku tidak pernah diciptakan di dunia ini. Aku selalu mengutuk diriku. Mengapa aku ditakdirkan sebagai tuna wicara? Mengapa aku harus mengalami nasib yang sama seperti barang rongsokan tak berguna itu? Seandainya aku hidup, aku pasti akan mengajakmu bicara, Gantari.–


       Pagi, semesta. Kemunculan cahaya mentari di ufuk timur mulai meresap melalui jendela. Menerangi sudut- sudut ruang yang sepi dan dingin. Aku bersemayam di atas tembok berwarna hijau yang agak berdebu dan sedikit mengelupas.

           “Tak...tak...tak...tak...”

       Begitulah bunyi jantungku yang masih terus berdetak memecah sunyi, menunggu hingga jarumnya tiba di angka tujuh. Saat ini jarumku masih berada di angka enam lebih lima belas menit. Biasanya ruang kelas masih sepi. Namun, akhir-akhir ini aku sering disambut lebih awal dengan sesosok gadis mungil yang selalu berlari terbirit-birit memasuki ruangan dan langsung memilih untuk duduk dibangku paling belakang. Aku tersenyum padanya. Tetapi aku heran. Kenapa setiap datang lebih awal dia selalu memilih untuk duduk di belakang? Ah, mungkin dia takut karena hari ini ada pelajaran matematika. Pikirku.

       Ku amati gadis itu dengan saksama. Tas hitamnya yang menggembung berisi sejumlah buku itu ia letakkan kasar di atas meja. Ia tampak terengah, peluh membasahi pelipisnya. Ya, gadis itu bernama Gantari. Sebuah nama yang membawa kesan ceria dan penuh semangat. Pagi itu aku melihat Gantari sedang terburu-buru membuka buku tulisnya dan bergegas mengerjakan tugas yang belum terselesaikan semalam. Setiap menit-menit tertentu matanya menampakkan sorot yang gelisah sambil bolak-balik melirik kearahku.

          “Duh, semoga waktunya cukup.”

       Tangannya masih terus menulis dengan cepat. Aku bisa mendengar gesekan antara pena dengan kertas yang beradu melawan suara detak jantungku. Sesuai dugaan, Gantari akhirnya mampu menyelesaikan tugas tepat lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku bisa merasakan tatapan gadis itu menjadi lega seketika. Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, kebanyakan siswa melirik kearah ku karena menantikan tibanya waktu istirahat atau bel pulang sekolah berbunyi. Namun, ada sisi lain yang bisa ku lihat dari sosok Gantari. Entahlah, tetapi aku merasa seperti ada yang berbeda.

   “KRIIING....!” suara bel pulang yang didambakan pun tiba.

       Para siswa berbondong-bondong keluar dari kelas bak ribuan burung gereja yang lepas dari sangkarnya. Sementara itu Gantari yang kini asyik dengan bukunya masih tak kunjung keluar dari kelasnya. Namun, alih-alih dibilang ‘asyik’ justru aku melihat ada sedikit kerutan murung diwajahnya yang menunjukkan rasa kegelisah dalam hatinya. Mungkinkah dia sedang punya masalah? Atau, yah... sesuatu yang lain. Aku masih terus menatapnya sampai keadaan di koridor kelas benar-benar sepi. Lalu Gantari merapikan buku-buku yang berserakan diatas meja. Dan membalikkan punggungnya untuk menatap sebuah tembok dibelakangnya. Tentu disitu adalah tempatku bersemayam. Beberapa detik kemudian Gantari mulai berbicara sendiri layaknya sedang bermonolog.

       “Hai, jam tua...”

       “Maukah kamu mendengarkanku sebentar?” ucapnya dengan nada yang polos.

       Jam itu terkejut. Sebagai benda mati, tentu ia berpikir.

       “Apakah dia benar-benar bicara padaku?” gumamnya. Jam tua itu hanya membalas dengan detakan jarumnya yang ritmis.

       “Kau tahu? Tadi aku kesulitan mengerjakan soal matriks,” keluh Gantari.

    “Hm, tapi ada satu hal yang membuatku merasa senang hari ini!” suaranya kini beralih menjadi semangat dalam sekejap.

       “Soalnya besok hari ulang tahunku!”

  “Jadi, aku mau buat kue lapis yang buanyaaakkk... banget!” 

tambahnya sambil berusaha menghibur diri. Disini Gantari seolah sedang berbicara langsung dengan kawan barunya. Setelah Gantari puas mengobrol, ia kemudian bergegas pulang ketika jarumku menunjukkan pukul 16.50.

        Begitulah awal mula keakraban kami dimulai. Gantari ternyata adalah gadis yang cukup ekspresif kendati ia sering terlihat seperti patung yang pasif di kelasnya. Bahkan benda mati sepertiku pun dia anggap sebagai teman. Haha, sungguh jenaka. Selama aku singgah di ruang ini, belum pernah ada yang menemaniku dengan cerita-cerita penuh warna seperti yang dilontarkan oleh Gantari. Sejujurnya aku merasa senang karena aku sendiri sudah lama merasakan dinginnya kesunyian dalam ruangan ini. Apalagi setelah jam pelajaran berakhir. Seisi ruangan hanya dipenuhi oleh suara berisik jarumku yang berdetak setiap sepersekian detik.

        Hari kini berganti menjadi minggu, dan minggu, kini berganti menjadi bulan. Aku masih terus saja melihat dirinya meluangkan menit-menit berharganya hanya dengan mengobrol bersamaku setiap pulang sekolah. Segala sesuatu yang ia dapatkan di hari itu, pasti akan ia ceritakan. Seolah aku adalah tempat pengaduan yang paling aman. Aku bisa melihat emosinya yang meluap-luap ketika gadis itu bercerita tentang hal yang menyenangkan, keluarganya, kehidupannya, bahkan tentang sebuah harapan-harapan kecil dan mimpi yang tak jarang membuatnya meneteskan air mata. Hal ini membuatku merasa bahwa kami berdua memiliki koneksi emosional yang saling terikat. Pembicaraan masih terus berlanjut hingga pukul 16.50. Begitu seterusnya.

       Akan tetapi, aku merasa kasihan padanya. Ia harus bercerita panjang lebar dan terkadang meminta saran tanpa jawaban dariku. Bayangkan, ini sangat melelahkan. Seandainya aku bisa bicara, seandainya aku hidup. Pasti Gantari tidak merasa kesepian begini. Segala keluh kesah yang ia tumpahkan dalam buku catatan hariannya kini bisa kudengarkan melalui syair-syair puitis indah yang ia ucapkan. Namun apalah daya, aku hanya bisa membalasnya dengan ucapan:

             “Tak...tak...tak...tak...”

       Bukankah kebanyakan manusia waras akan berpikir kalau hal seperti ini hanyalah buang-buang waktu? Entahlah–

        Hari ini aku berusaha tersenyum untuk menyambut kedatangannya. Walau aku melihat rupanya yang murung. Amarah dan kesedihan tampak mengalir lewat tatapannya. Rupanya ia mengeluh karena nilai ujiannya tidak sebaik teman-temannya. Banyak dari mereka yang menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan hasil yang baik. Dan itu membuat dirinya frustrasi setelah belajar mati-matian. Sama halnya denganku. Terkadang aku pun merasa cemburu terhadap jam digital baru yang dipasang di meja guru. Ia angkuh dengan pendar angka merahnya yang menawan, tanpa mengeluarkan suara berisik yang mengganggu, tanpa harus repot berjuang memutar girnya. Aku merasa terpinggirkan, merasa bahwa manusia masa kini lebih memuja sesuatu yang baru, serba canggih dan serba instan. Aku merasa putus asa. Sama seperti yang dirinya rasakan.

        Namun, sepertinya hari itu keputusasaan Gantari mencapai puncaknya. Masalah hidup yang bertumpuk membuatnya kehilangan kendali. Dengan tangan gemetar dan isak yang tertahan di tenggorokan, ia menaiki kursi, merenggutku dari paku penopang, dan menghempaskanku ke lantai.

       “BRAAAKKK!!!”

       “Aku benci! Pokoknya aku benci!”

     “Waktu yang ku habiskan hanyalah sebuah sampah!”

        Kacaku hancur berantakan. Gir emas di dalam perutku berhamburan, dan jantungku terhenti seketika. Aku mati, terbujur kaku ditangan Gadis itu. Rasanya seperti aku mengalami pengkhianatan dari satu-satunya orang yang aku cintai.

       “Sialan! Sungguh sialan! Semesta, rasanya aku ingin berteriak, mengeluarkan tetesan kepedihan yang terpendam dalam diriku. Dan berharap aku tidak pernah diciptakan di dunia ini. Aku selalu mengutuk diriku. Mengapa aku ditakdirkan sebagai tuna wicara? Mengapa aku harus mengalami nasib yang sama seperti barang rongsokan tak berguna itu? Seandainya aku hidup, aku pasti akan mengajakmu bicara, Gantari.–“

       Gantari jatuh bersimpuh dihadapan jam tua itu. Ia memandang kepingan kaca jam itu dengan tatapan kosong yang mengerikan. Belum lama setelahnya, tiba-tiba dunia di sekitarnya melenyap. Lantai semen berganti menjadi bidang berwarna putih tanpa sudut. Hampir terlihat seperti ruangan hampa. Gantari tersadar bahwa ia telah terseret ke dunia lain. Ditengah-tengah kehampaan itu, ia dihadapkan dengan sosok gadis asing seumurannya dengan rambut terurai yang tak lain merupakan sosok jelmaan jam tua tadi. Gantari terkejut sekaligus ketakutan.

    “Kenapa kamu menghentikan hidupku?” tanya makhluk itu.

       “Apa?! Maksudmu...kau jam dinding itu?!” timpa Gantari seolah tak percaya.

     “Ya, itu aku. Maaf karena aku tidak bisa bicara.”

       "Apa kau membenciku karena bagimu waktu adalah sampah?”

Gantari lantas menjawab dengan suara yang sedikit parau.

     “Ya, aku merasa semua usahaku terbilang sia-sia. Tidak pernah dihargai, bahkan tidak pernah membuahkan hasil sama sekali.”

Kemudian makhluk itu kembali berkata,

   “Ketahuilah, Gantari. Jantungku terus berdetak untuk umat manusia, termasuk dirimu. Seharusnya kau tahu betapa berharganya waktu yang kuberikan untukmu. Namun seringkali manusia terlalu lalai akan waktu, Padahal dia tidak akan pernah bisa diulang.”

       “Gantari, aku mengerti perasaanmu. Tapi tolong, janganlah kamu berputus asa. Aku yakin, semuanya tergantung waktu. Biarlah waktu yang menentukan. Kau pasti akan beruntung jikalau kamu bisa memanfaatkan waktumu dengan baik.”

       “Tubuhku memang telah hancur. Namun, aku harap dirimu akan selalu mengingat jasaku akan seberapa banyak waktu yang kuberikan. Jiwaku akan tetap disini.”

       “Jangan pernah menyerah, jika kamu tidak ingin waktumu terbuang!”

Kilatan cahaya seketika membuat ruangan terasa silau. Suasana kini kembali seperti semula.

       Gantari tersentak hebat. Kepalanya yang tadinya tergeletak di atas meja kini terangkat dengan mata membelalak. Ia mengerjapkan mata, mencoba mencari keberadaan sosok gadis jam itu, namun yang ada hanyalah ruang kelas yang remang-remang. Mejanya dipenuhi oleh buku dan kertas coretan yang membuatnya semakin berantakan.

     “Hanya mimpi?” gumamnya sedikit linglung.

       Ia menatap ke arah tembok, dan jam tua itu masih berdetak utuh di sana. Cahaya matahari telah berubah menjadi jingga. Ia teringat mimpi aneh yang baru saja ia alami sambil merasakan ada motivasi yang meresap kedalam sanubarinya. Gantari sadar bahwa jarum jam itu kini menunjukkan pukul 17.00. Dia ingat bahwa dia harus segera pulang. Sambil merapikan buku, ia berkata,

       “Waktu—”

       “Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu!”

   “Mulai hari ini dan seterusnya!” suara Gantari dipenuhi dengan tekad.

Begitulah akhir ceritaku. Aku merasa bahagia bisa memberikan waktu yang berharga dalam kehidupan manusia. —Selesai


Post a Comment

Previous Post Next Post
iklan-728
iklan-728