Suasana pagi hari di kelas itu selalu dimulai dengan suara yang sama. Gesekan kursi, buku yang dibuka tergesa, dan sapaan kecil yang saling bersahutan sebelum guru datang. Cahaya matahari menembus jendela, jatuh miring di atas meja-meja kayu yang telah lama menjadi saksi cerita mereka.
Di antara deretan itu, ada satu tempat yang hampir selalu terisi lebih dulu. Bukan karena paling depan maupun paling nyaman. Tapi hanya karena seseorang telah terlalu lama memilihnya. Dan setiap pilihan yang diulang berkali-kali, perlahan berubah menjadi kebiasaan. Aku merupakan tempat itu.
Aku hafal langkahnya bahkan sebelum bayangannya benar-benar berhenti di depanku. Ada ritme kecil dalam cara ia berjalan. Sedikit cepat, kadang setengah berlari jika bel hampir berbunyi. Tasnya selalu diletakkan pelan di atasku, tak pernah dibanting. Setelah itu ia menarikku mendekati meja, lalu duduk sambil menghela napas tipis. Kadang ia menggoyangkan kaki saat bosan. Kadang ia menyandarkan kepala pada meja dan diam cukup lama.
Aku hanyalah bangku kayu biasa. Ada goresan kecil berbentuk garis tak beraturan, mungkin dari ujung penggaris yang ditekan terlalu keras. Bangku-bangku di kelas ini memang tampak berbeda karena tubuhnya dilumuri dengan cat berwarna cokelat kayu yang berkilau, sehingga membuat mereka seolah-olah tampak baru. Namun, aku tetaplah seperti bangku-bangku yang lain. Satu hal yang membuatku istimewa adalah kedudukanku. Aku adalah tempatnya.
Pagi itu terasa seperti pagi biasa. Bel berbunyi. Siswa-siswa masuk dengan langkah tergesa. Tawa kecil terdengar di sepanjang koridor ruangan. Buku-buku dibuka. Suara meja digeser bersahutan. Dan dikelas, aku menunggu. Langkah yang kukenal tak kunjung datang. Bel kedua berbunyi. Guru masuk. Semua bangku telah terisi. Kecuali aku. "Mungkin ia sakit," pikirku.
Hari itu aku melewati jam pelajaran tanpa beban. Tidak ada tas yang menekan permukaanku. Tidak ada tubuh yang bersandar. Tidak ada siku yang menumpu saat ia mencatat. Aku terlalu ringan. Dan untuk pertama kalinya, ringan terasa seperti kehilangan.
Hari kedua, ia belum datang. “Katanya nggak masuk lagi,” bisik seorang siswa sebelum pelajaran dimulai. Aku sedikit lega. Berarti ia masih di rumah. Berarti ini hanya sementara.
Lima hari pertama berjalan lambat. Setiap pagi aku tetap menunggu. Setiap siang aku tetap kosong. Guru matematika menjelaskan rumus. Guru bahasa membagikan tugas. Guru sejarah bercerita panjang tentang masa lalu. Semua berjalan seperti biasa. Kelas tetap hidup. Hanya aku yang tak lagi ditempati. Saat jam kosong, suasana berubah. Kursi-kursi ditarik ke tengah. Mereka membuat lingkaran kecil untuk bercerita. Tawa lebih keras dari biasanya.
Suatu siang, dua tangan menarikku. “Geser sini, biar muat.” Kakiku berderit pelan saat terseret. Seseorang duduk di atasku. Beratnya berbeda dan cara duduknya berbeda. Aku merasa asing. Di akhir obrolan, seseorang berkata, “Eh kembaliin ke tempatnya dong, itu kan bangkunya dia.” Bangkunya dia. Kalimat itu membuatku diam. Meski ia tak ada, namanya masih melekat padaku. Hari itu aku merasa sedikit tenang.
Memasuki satu minngu, akhirnya aku mendengar kabar yang jelas. “Dia lagi umroh.” Umroh. Perjalanan jauh, kata mereka. Perjalanan yang istimewa. Jadi ia tidak sakit. Ia pergi. Aku memikirkan kata itu lama sekali. Pergi. Berapa lama manusia pergi? Berapa lama sebuah tempat harus menunggu dan dikunjungi?
Sejak tahu ia pergi jauh, penantianku berubah. Aku tidak lagi cemas seperti hari-hari pertama. Aku mencoba memahami. Tapi hari-hari berikutnya terasa semakin panjang. Jam kosong semakin sering. Kursi-kursi makin sering ditarik. Aku makin sering dipakai. Kadang untuk duduk sebentar. Kadang untuk menopang tas. Kadang hanya jadi tempat bersandar.
Aku memang dibuat untuk diduduki. Aku tidak keberatan. Namun setiap kali seseorang duduk di atasku, ada pertanyaan kecil yang muncul. Jika aku dipakai oleh banyak orang, apakah aku masih miliknya? Ataukah aku hanyalah kayu biasa yang kebetulan pernah dipilih?
Menjelang minngu kedua datang tanpa tanda khusus. Namanya semakin jarang disebut. Percakapan di kelas berputar pada hal lain seperti tugas, acara sekolah, ulangan mendadak. Dunia tidak berhenti karena satu orang pergi.
Suatu siang, seseorang berkata, “Pindahin aja ke belakang, kosong terus.” Kakiku seolah membeku. Jika aku dipindah, bagaimana jika ia kembali dan tidak menemukan tempatnya? Sebelum aku benar-benar digeser, suara lain menahan, “Jangan. Nanti dia balik, bingung."
Balik. Kata itu kembali memberiku harapan. Namun malam-malam panjang setelah kelas sepi membuatku berpikir lebih jauh. Bagaimana jika saat kembali ia memilih duduk di tempat lain? Manusia bisa berubah. Aku pernah melihat itu. Mereka kadang bertukar tempat hanya karena ingin dekat dengan teman berbeda. Aku mulai takut. Takut tidak lagi dipilih.
Dua minggu berlalu. Aku berhenti menghitung hari. Aku mulai terbiasa dengan kosong saat pelajaran. Dan untuk pertama kalinya, aku mencoba menerima kemungkinan terburuk bahwa mungkin ia akan kembali, tapi tidak lagi duduk di sini. Bayangan itu terasa lebih berat daripada hari-hari kosong sebelumnya.
Suatu pagi, kelas terasa seperti biasa. Cahaya matahari masuk lewat jendela. Debu kecil berkilauan di udara. Siswa-siswa berdatangan. Aku tidak lagi menunggu dengan harapan besar. Aku hanya ada. Lalu aku mendengar suara yang sangat kukenal. Tawa kecil itu. Langkah yang sedikit tergesa. Tas dijatuhkan pelan di atasku. Dan berat yang selama hampir berhari-hari tidak kurasakan akhirnya kembali.
Ia duduk. Menggeserku sedikit mendekati meja. Sama seperti dulu. Seolah tidak pernah pergi. “Aku kangen duduk di sini,” katanya pelan. Beberapa temannya mendekat. Mereka bertanya tentang perjalanan, tentang doa, tentang cerita di tempat jauh. Ia tertawa. Ia bercerita tentang perjalanan jauh, tentang tempat yang ramai, tentang doa-doa yang ia panjatkan, tentang rindu pada sekolah.
.jpg)

Post a Comment