Pelengkap yang Terlupa

 Pelengkap yang Terlupa



               Aku adalah penduduk nomaden yang berpindah-pindah dari tangan satu ke tangan lain, lanjut ke kolong meja, serok sapu, di bawah debu, bahkan diinjak-injak. Tubuhku dingin, keras, berwarna perak kusam, dan kadang berkarat. Sebenarnya aku bukanlah sampah, tapi di ruangan ini, perbedaanku dengan debu sangatlah tipis. Korban dari saku yang bolong, atau tangan yang teledor, lalu berakhir dilupakan, dan dianggap seperti hantu, yang ada, tapi tidak dilihat. Selama sehari hari, aku melihat dunia hanya dari gerak-gerik sepatu. Sebagai saksi bisu betapa cepatnya manusia bergerak mengejar hal-hal besar, sampai mereka tidak punya waktu untuk sekadar menunduk dan melihat apa yang ada di bawah kaki mereka. Aku ada, tapi keberadaanku dianggap tiada.

 

        Hari ini, namaku sering sekali disebut, tapi sosokku tetap diabaikan. 

Pertama, tepat di bawah meja tempat bendahara yang suka memalak uang kas itu duduk. Ia dikerubungi teman-temannya yang ingin membayar uang LKS. Suasananya sangat amat bising. 

“Aduh, kembaliannya kurang lima ratus perak”.

“Nggak ada receh nih,” keluhnya sambil mengacak-acak dompet kain putihnya yang sudah berubah menjadi keabuan.

Teman yang membayar hanya mendengus malas “Ya sudah, buat kamu saja,” katanya sambil berlalu, seolah-olah lima ratus perak adalah angka yang terlalu melelahkan untuk diperdebatkan.

 

        Kedua, saat jam istirahat pertama. 

Gadis berkacamata itu menggumam di depan pintu kelas “aduh, lima ratusnya nggak ada,” dengan kedua tangannya yang keberatan membawa kardus berisi tiga macam titipan jajanan SmanDol, alias SMANSA Dodolan.

“Lima ratusnya nanti, ya? Belum ada kembalian, soalnya” sahut temannya.

Mereka semua merasa kehilangan lima ratus rupiah tidak akan membuat mereka jatuh miskin. Padahal, aku ada di sini. Hanya berjarak beberapa senti dari ujung sepatu bau mereka. Terciptalah kerumitan yang sepertinya tercipta karena ketiadaanku di mata mereka.

Mereka mengeluh karena aku tidak ada di saku atau dompet mereka, namun mereka enggan merunduk untuk melihatku di lantai. Aku ditolak bukan karena aku palsu, namun karena nilaiku tidak sebanding dengan usaha mereka untuk membungkukkan badan.


Kehadiranku hanya dianggap sebagai penggenap yang merepotkan, bukan nilai yang menentukan. Selalu dibiarkan jatuh gemerincing, diinjak-injak sepatu dari yang berlogo centang, yang jika berjalan berbunyi “tok tok tok”, sampai yang sudah bolong dan mengeluarkan bau udang kering yang difermentasi. Aku di bawah sini bertetangga dengan barang-barang buangan lainnya. Kadang aku tertumpuk sobekan-sobekan kertas ulangan yang nilainya berbentuk seperti huruf O, dan aku pernah masuk di dalam kantong plastik bau untuk menyimpan sampah-sampah basah dan kering milik warga kelas selama seharian itu. Bahkan kadang aku bersandar di tutup pulpen yang sudah patah digigiti oleh pemiliknya yang stres itu. Bahkan, aku ada hanya digunakan untuk bermain ‘gambar atau angka’.

Namun aku sangat besar di mata mereka, saat mereka menjatuhkanku ke dalam toples plastik bening bekas sosis, bertuliskan Infak Jumat. Bahkan 1 kepingku bisa mendadak sakti, karena bisa mewakili 5 anak yang bisa mengeluarkan uang untuk membeli jajan, tapi tidak bisa mengeluarkan uang untuk sedekah.

 

        Saat bel pulang sudah lama berlalu dan kelas hanya menyisakan sunyi, seorang petugas kebersihan sekolah masuk ke dalam kelas. Langkah kakinya berat, khas orang yang sudah  bekerja seharian. Saat sapunya menyentuh tubuhku, ia berhenti. 

Tanpa banyak pikir, ia membungkukkan punggungnya yang sudah melengkung itu dengan perlahan, mungkin agar tidak sakit?Tangan yang penuh urat kasar itu memungutku. Ia tidak peduli dengan setebal apa debu yang menempel di tubuhku. Diusapku ke celana pendeknya yang lusuh, lalu memasukkan ke dalam kantong celananya yang penuh jahitan.

Baginya, aku bukan hanya sekedar kepingan logam yang ditemukan. Aku adalah kepingan terakhir untuk menggenapkan biaya sekolah cucunya yang juga sedang menunggak buku.

Di dalam sakunya yang hangat, aku bertemu teman-temanku yang lain. Kami semua berkumpul hanya untuk satu tujuan yang nyata. Di sini, aku tidak lagi dianggap kecil, karena di tangan orang yang benar-benar tahu apa itu ‘kurang’, setiap kepingan adalah penyelamat.

 

        Aku belajar dari lantai kelas ini. Manusia seringkali terlalu sibuk menghitung ribuan, sampai mereka lupa bahwa angka seribu tak akan pernah lahir tanpa angka satu. Mereka mengeluh saat kehilangan sedikit, tapi sombong saat harus menghargai yang kecil.

Jangan pernah meremehkan hal yang tampak sepele. Karena sesuatu yang kamu biarkan berdebu di lantai karena gengsi, bisa jadi adalah sesuatu yang sangat didoakan orang lain agar jatuh ke tangan mereka. Dunia ini luas, tapi ia tersusun dari hal-hal kecil. Bahkan hal kecil tersusun dari hal-hal yang lebih kecil lagi. Dan seringkali, nilai sejati seseorang bukan dilihat  dari seberapa banyak yang dia pamerkan, tapi dari seberapa mampu dia menghargai hal terkecil yang sanggup menyempurnakan sebuah urusan.

Post a Comment

Previous Post Next Post
iklan-728
iklan-728